Hadiah dari Kanada

Belanja buku tahap 1, hadiah dari Kanada

Belanja buku tahap 1, hadiah dari Kanada

Sebuah pesan di facebook membuat kami terlonjak girang. Seorang teman yang baru pulang setelah mengembara di Kanada menyatakan ada titipan untuk Pintu Ilmu. Setelah beberapa hari, sejumlah uang masuk ke rekening.

Waaaa….

Senang sekali, rasanya.

Setelah memilah dan memilih buku, kami belanja tahap pertama: Buku-buku yang lucuuuu dan menyegarkan untuk mengisi liburan

* Satu paket koleksi lengkap karya Road Dahl

* Dua buku serial Nathalie karya Sergio Salma (semoga anak-anak suka dan minta beli lagi)

* Buku Adikku Nakal karya Dorothy Edwards

* Little Prince karya Antoine de Saint Exupery (mungkin tak membuat terbahak, tapi ini kisah klasik yang menggetarkan)

 

Kami sedang memesan satu set Pustaka Ilmu Pengetahuan karya Harun Yahya terbitan Syamil… masih indent, semoga Juli ini bisa terkirim

Terima kasih, Mb. Ika Nury Wahidah… Semoga berkah :-)

Libur UASBN kreatif: Bola bola Coklat

Hari ini, 11 Mei 2011 Genk Pintu Ilmu bergembira lagi

Meremas, menumbuk, menguleni, menjilat heheheh (foto lain menyusul...)

Meremas, menumbuk, menguleni, menjilat heheheh (foto lain menyusul...)

Ali Anvari dan seorang temannya, Rhio, menggagas sebuah acara untuk mengisi liburan. Berhubung anak-anak kelas 6 SD mengikuti ujian, adik-adik kelasnya libur deeeeh… Nah, asyik kan kalau liburan dijadikan tempat berkreasi.

Berikut proses Ali & Rhio melaksanakan acaranya:

  1. Menyusun proposal kegiatan
  2. Membahas jenis kegiatan
  3. Menentukan iuran (disepakati Rp. 3.000,- per anak)
  4. Menyiapkan materi yang diperlukan
  5. Menyebarkan undangan
  6. Mencatat pendaftar
  7. Membagi kelompok
  8. Menyambut peserta
  9. Bergembiraaaaaaa
  10. Evaluasi & makan siang. Menu: cuanki (pedas, panassss…)

Nah…

Pendaftaran dilewati dengan mudah, karena Genk Pintu Ilmu sudah biasa berkumpul. Ada beberapa muka baru yang malu-malu… tapi ketika acara jadi ikutan heboooh….

Acara pertama adalah mewarnai & membuat resensi buku. Sebenarnya, acara ini adalah pengkondisian, agar anak-anak siap bermain dan yang masih malu-malu punya waktu untuk menyesuaikan diri.

Setelah itu main ranjau darat. Ali sudah menyiapkan peta ranjau, dan menggambar medan ranjaunya dengan kapur tulis di halaman (kapur tulisnya sempat hilang dan panitia bingung hehehe). Ali pernah main ranjau ini saat outbond keluarga, dan ingin membagikan kegembiraannya dengan teman-teman Pintu Ilmu. Satu persatu anak menebak dan mengingat-ingat kotak yang ada ranjaunya. Tawa dan teriakan kaget membuat suara sampai serak deh….

Berikutnya menjadi detektif. Peserta mendengarkan kisah misteri pencurian koper, mencari petunjuk yang ditempel di sekitar lokasi, dan menemukan pelakunya. Bagaimana kisah dan petunjuknya, akan segera di upload di blog Ali. Tunggu yaaaa….

Acara ke-tiga adalah quizzzz… ada tebak-tebakan berupa permainan angka dan kata. Lumayan, sambil istirahat setelah heboh mengejar penjahaaaat…..

Selanjutnya, yang paling ditunggu-tunggu adalaaaaah:

Membuat bola-bola coklat….

Meremas, menumbuk, mengaduk, membentuk… keterampilan motorik halus dilatih di sini. Eh… ada yang lupa: menjilat! :-)

Yummy….

Terakhir beres-beres dan evaluasi kegiatan sambil menyeruput cuanki ala Tante Ina yang panas dan pedassss…. Selamat, Li…:-)

Pintu Ilmu Kebanjiran

menjemur buku yang kebanjiran

Menyortir buku yang kebanjiran

Setelah dipilah, buku-buku yang basah kami jemur.

Suatu sore, sekitar November 2009, hujan turun sangat deras. Kami semua bergelung di dalam rumah. Ternyata, tanpa kami ketahui, selokan di depan rumah tertutup. Ada pecahan ubin yang memang sengaja diletakkan untuk menghalangi bola pingpong agar tidak bergulir ke dalam selokan.

Hujan yang sedemikian deras menggelontorkan air ke dalam ruang Pintu Ilmu. Sebagian buku yang tersusun di lantai terendam. Ada juga rak yang basah kuyup karena atap bocor. Sungguh nelangsa.

Alhamdulillah, keesokan harinya hari cerah, matahari terik. Kami memilah berbagai barang yang basah…terutama buku-buku. Banyak buku dan majalah yang terpaksa dibuang karena kerusakannya terlalu parah. Sedih…..

Les Inggris di Pintu Ilmu

bahan ajar les inggris

ini bahan ajar les Inggris Zaky yang belum sempat dihapus oleh penulisnya…jadi sempat difoto deeeh…:-D

Salah satu program rutin yang diadakan di Pintu Ilmu adalah belajar Bahasa Inggris setiap Sabtu Minggu. Gurunya tentu saja Kak Zaky….

Ada juga video yang direkam diam-diam dari balik tirai dapur, Juni 2008. Saat itu Zaky berumur 10 tahun. Muridnya lebih dari 10 anak, dan ini kelompok yang sedang kebagian belajar; sementara yang lain boleh main…

silakan klik Video Les Inggris Zaky

Main Cat = Mahal? Belum tentu dong….

membuat cat sendiri

Anak-anak bisa diajak berkreasi dengan cat yang asyik dan murah. Kita bisa memakai bahan pewarna makanan yang harganya bervariasi dari Rp. 500,- hingga 2.500,-. (Bisa dipakai berkali-kali tuh…)

Caranya?

Tuangkan tiga sendok makan air ke mangkuk, bubuhi bahan pewarna makanan sesuai selera. Aduk rata. Tambahkan satu sendok makan terigu (atau lebih) hingga cairan yang ada di mangkuk menjadi kental. Tanpa terigu, hasil catnya kurang asyik dan ketika kering, warnanya tidak merata.

Siap deh kita main cat…..bisa di kertas, bisa di kain…bisa juga di dinding hehe…

Mudah, murah, menyenangkaaaan…..

Lilin mainan dari terigu

Pernah main lilin mainan (malam?) Nah….Kita akan membuat lilin mainan sendiri.

Bahannya sangat sederhana. Untuk satu kelompok terdiri dari 5-6 anak, kita memerlukan:

Seperempat kilogram tepung terigu, bahan pewarna makanan, satu sendok minyak goreng, air secukupnya, dan satu sendok makan garam (kepada anak-anak dijelaskan bahwa fungsi garam adalah sebagai bahan pengawet, jadi lilin mainan mereka bisa tahan sampai seminggu)

Semua bahan diuleni hingga kalis, dan membubuhinya dengan pewarna. Masing-masing kelompok membuat adonan satu warna, kemudian barter dengan kelompok lain.

Selamat berkreasi dengan lilin mainan yang murah dan mudah :-)

membuat lilin mainan sendiri

Aku Bisa Membuat Donat Sendiri

menghias donat sendiri

Sebenarnya, setiap anak punya potensi untuk menjadi koki handal. Kalaupun bukan handal, mereka pasti bisa membuat makanan sendiri (bukan hanya dari bahan instan looh…)

Sayangnya, ketika orangtua memasak, anak-anak lebih sering diminta menjauh. Alasannya: agar tidak mengganggu!

Bersama Pintu Ilmu, kali ini mereka boleh bikin donat sendiri! Anak-anak juga diberi penjelasan, bahwa makanan yang dibuat sendiri itu lebih sehat, lebih murah, dan tentu saja lebih menyenangkan dan menantang!

Untuk satu kelompok yang terdiri dari lima atau enam anak, kita memerlukan bahan sebagai berikut:

Setengah kilogram terigu, tiga butir telur, dua sendok mentega, empat sendok makan gula pasir, setengah sendok makan garam, sebungkus fermipan, dua sendok makan susu bubuk, air secukupnya. Adonan ini bisa menghasilkan kira-kira lima donat mini untuk masing-masing anak.

Mereka boleh menakar bahan dan membuat adonan, hingga akhirnya menghias sendiri.  Hanya saja, karena peserta terlalu banyak (dua puluh lima anak plus beberapa balita), dan penggorengan terbatas, urusan menggoreng donat diserahkan ke para ibu. Anak-anak tinggal bersiap dengan bahan hiasan.

Bagi sebagian anak, ini kali pertama mereka menyentuh tepung terigu, memecahkan telur, dan membuat adonan. Tak heran mereka begitu antusias dan gembira. Walau ini kali pertama, semua donat mereka sukses!

coba lihat ini:

cuci tangan sebelum membuat adonan
Antri cuci tangan dulu dooong…

campur bahan donat

Antusias mengaduk-aduk terigu. Mungkin ini kali pertama mereka menyentuh terigu, dan menjadikannya makanan sungguhan :-)

uleni bahan donat

Lihat, betapa banyak tangan yang ikut bekerja… Sungguh, melalui tangan-tangan ini, terbayang betapa ceria rona muka mereka.

kreasi bentuk donat

Ciptakan bentuk donat yang tak pernah ada sebelumnya…

aneka bentuk donat unik

Pernahkah anda melihat donat dengan bentuk seunik ini sebelumnya? Lebih banyak terobosan berani dibandingkan dengan bentuk donat konvensional.

Berkali-kali dua ibu ini terkekeh melihat donat aneka bentuk. Kali ini anak-anak belum berkesempatan menggoreng sendiri donat mereka. Tempat dan sarana terbatas nih…Semoga di acara berikutnya bisa masak dengan api sungguhan hehe…

BERIKUTNYAAA….

menghias donat kami sendiri…satu dimakan, dua dibawa pulang buat oleh-oleh ke rumah :-)

menghias donat menghias donat menghias donat

menghias donat menghias donat

Sampai jumpa di acara berikutnyaaaa….:-)

Membedah Buku dengan Mindmap

mindmap (bukabuku.com)

Yang khas dari setiap acara yang diadakan oleh Pintu Ilmu adalah bergembira dengan buku. Kali ini kami belajar membedah buku dengan mindmap. Menurut Tony Buzan, mindmap itu sebuah alat bantu berpikir, salah satunya agar otak kita bisa fokus dan menemukan ribuan informasi secara efektif.

Untuk anak-anak yang belum terbangun minat bacanya, metode ini bisa dipakai untuk mengikat konsentrasi mereka. Lihatlah, mereka juga bisa melakukan apa yang dicontohkan Tony Buzan:

mind-map (ponics.org)

mindmap Rama & Iqmal kls 4 SD

Rama & Iqmal (kls 4 SD) membaca buku tentang Laba-laba, dan menemukan poin-poin penting seperti:

Apa: Laba-laba

Binatang apa: Umniform (entah apakah maksudnya omnivora)

Di mana: di hutan

Gambar Laba-laba dan jaringnya.

mindmap Rifqy kls 2 SD

Nah…Rifqy (kelas 2 SD) membaca buku tentang binatang. Terbaca kan, apa yang ditemukannya?

Mindmap yang mereka terapkan memang masih sederhana. Tapi dengan berlatih, insya Allah khasanah pemikiran mereka akan berkembang dahsyat. Mereka sangat gembira dan berkali-kali berseru: Ini…ini… Nah…yang ini!! Rasanya, dengan mindmap, mereka bisa mengalami AHA moment!

Cobain deh!

Judul buku

Tentang apa

Ada binatang apa

Kapan terjadinya

Ada tumbuhan apa

Siapa tokohnya

Apa yang lucu

Di mana

Liburan kreatif bersama Pintu Ilmu

Libur akhir tahun 2009 sungguh lama. Tiga minggu ini mau pada ngapain yaaa? Pintu Ilmu punya ide mengisinya dengan acara Libur Kreatif bersama Pintu Ilmu. Intinya,

Pertama, kami rapat.

Terbentuklah sebuah EO yang dipimpin Kak Zaky. Ibu dan tante-tante yang kebetulan sedang berlibur  di rumah dikerahkan sebagai tenaga pendamping.

Berikutnya merancang acara. Liburan yang lalu kita pernah bikin kartu ucapan, pernah lomba menggambar & mewanai, pernah juga lomba mendongeng. Nah..kali ini kita mau apa ya?

Mmmm….masak!  Kegiatan khas Pintu Ilmu adalah belajar mencintai buku. Jadi, bedah buku dan bikin resensi itu sudah pasti. Kalau libur sebelumnya kita membedah buku dan dijadikan lomba dongeng, maka kali ini kita belajar membedah buku dengan mind-map!

Tibalah saatnya bikin pengumuman, dan menyebarkannya ke tetangga. Setelah pengumuman di-print dan difotokopi, anak2 genk Pintu Ilmu sudah siap menyebar dan mendata peserta.

Udah deh…tinggal Ibu & Tante Ina belanja….seirit mungkin hehe…

Dan….Let’s have fun!!!

Liburan Kreatif bersama Pintu Ilmu

Nama kegiatan Alat dan bahan
Baca Asyik Buku bacaan

Kertas

Alat tulis

English game Cards, double tape
Matematika Asyik Kertas

Alat tulis

Spidol

White board

Main cat warna warni Pewarna makanan, terigu

Kertas

Wadah2 cat (cup puding)

Baskom cuci tangan

Lap tangan

Dongeng berantai Alat tulis

Kertas

Laptop

Nulis asyik (Mind map) Kertas

Alat tulis

Bikin donat Bahan donat

Baskom

Plastik alas

penggorengan

Plastik pembungkus

Kompor gas

Baskom cuci tangan

Lap tangan

Lilin mainan Bahan lilin mainan (terigu, garam, minyak goreng, pewarna makanan)

Baskom cuci tangan

Lap tangan

Nonton bareng & kuis In focus, laptop

Daftar pertanyaan

Hadiah

Zaky: pendiri Pintu Ilmu

Zaky memimpin kegiatan liburan Pintu Ilmu

Kira-kira sejak September 2006, anakku, Zaky (9 th), menjadi guru les bahasa Inggris. Setiap Sabtu siang, dia pasti segera mandi dan pakai baju resmi. Murid-muridnya adalah anak-anak kecil di blok kami dan blok sebelah, bahkan belakangan anak dari kompleks sebelah juga mulai ikutan. Yang lebih istimewa, dia bisa banget mengikat emosi anak-anak itu, sehingga sampai sekarang, murid-muridnya setia dan datang setiap sabtu siang ke teras rumah kami. Mulanya, ibu-ibu mereka berpikir aku yang mau ngajar. Mereka ga sangka kalau Zaky yang jadi gurunya.

Awalnya:Tiba-tiba dia ingin jadi guru les Inggris. Pamflet dia buat dan dia print sendiri, lalu ditempelkannya di papan pengumuman RT. Dia juga mendatangi rumah-rumah tetangga yang punya anak kecil dan menawarkan kursusnya. Gratis, katanya. Tentu saja ibu-ibu pada mau, wong mereka pikir aku yang ngajar. Aku sendiri penasaran, mengapa dia begitu antusias. Setelah kutanya, diapun buka kartu: Dia terilhami oleh novel anak yang dibacanya, kalau tidak salah judulnya “Bocah-bocah di Pagar” terbitan Penerbit Mizan Bandung. Di dalam kisah novel itu, ada seorang anak kecil yang main sekolah-sekolahan dan menjadi guru bagi anak-anak yang lebih kecil dari dia. Rupanya novel itu begitu berkesan bagi zaky, sampai menjadi inspirasinya untuk ikut menjadi guru.

Saat tiba hari Sabtu pertama, dua jam sebelumnya, Zaky yang biasanya cerewet tiada henti mendadak diam saja. Mondar-mandir tak jelas sambil termangu-mangu. Kutanya, “Kakak sakit?”“Nggak koq”“Trus kenapa diem aja?”“Kak Zaky deg-degan nunggu ngajar…”Oooo ternyata Pak Guru terserang demam panggung.Walaupun begitu, semua kecemasannya itu menguap setelah tampil di hadapan murid-muridnya.

Hari pertama dilaluinya dengan sukses, walau agak geer dan grogi dikit-dikit. Aku sengaja rekam diam-diam dari kamar depan, biar ada dokumentasi keberanian dia berinisiatif.

Sampai sekarang kursusnya masih jalan. Lebih sering di teras rumah kami, tapi tak jarang dibawanya anak-anak ke taman kompleks, trus jalan-jalan keliling blok, sambil teriak-teriak: “Look, that is the sun! The sun is in the sky!”  Anak-anak makin senang, bahkan menurut ibu salah satu dari mereka, anak-anak jadi semangat belajar bahasa Inggris berkat les di Zaky. Waduh, mau melayang rasanya aku…ikut bangga dong, aku kan ibunya…padahal, aku gak ikutan. Les itu murni proyeknya Zaky.

Keterlibatanku tak lebih dari bertanya apa yang mau diajarkannya, dan seringkali dijawab “ada ajah” oleh Zaky. Pak guru kecilku itu juga tak pernah memintaku terlibat, selain minta komentar atau nilai setiap akhir kursus: sudah pasti aku kasih banyak saran, tapi ya itu tadi…hanya saran klise yang mungkin tak diperlukannya.

Bapaknya pernah bilang: Zaky ini jauh lebih punya peluang untuk bisa punya jaringan kursus Bahasa Inggris dibandingkan dengan ibunya. Memang sih, kalau mikir mendirikan kursus, aku sudah pusing duluan mikirin fasilitasnya, kurikulumnya, gurunya, muridnya: rumit dan njelimet. Zaky juga sudah menemukan jalannya sendiri untuk mengasah kemampuan Bahasa Inggrisnya. Pendeknya: Zaky lebih pede!!!

(tulisan ini juga ada di anna farida)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.